Apa Itu Kejang?


Gelangstep.Net - Semua gerakan kita dikendalikan oleh otak yang mengirim sinyal-sinyal listrik melalui saraf ke otot. Jika sinyal dari otak mengalami gangguan atau terjadi keabnormalan, otot-otot tubuh dapat berkontraksi secara tidak terkendali. Itulah yang terjadi saat tubuh mengalami kejang.

Tiap orang mengalami gejala kejang yang berbeda-beda. Perbedaan ini umumnya tergantung pada bagian otak yang mengalami gangguan. Beberapa gejala yang dapat muncul secara tiba-tiba meliputi:
  1. Kehilangan kesadaran untuk sesaat dan merasa bingung ketika sadar karena tidak ingat apa yang terjadi.
  2. Perubahan gerakan bola mata.
  3. Mengiler atau mulut berbusa.
  4. Perubahan suasana hati, misalnya mendadak marah atau panik.
  5. Gemetaran di seluruh tubuh.
  6. Tiba-tiba jatuh.
  7. Mulut terasa pahit atau ada sensasi rasa logam pada mulut.
  8. Kejang otot yang disertai gerakan-gerakan ritmis pada lengan dan kaki.
  9. Sebagian penderita kejang kadang-kadang juga mengalami sensasi aura, yaitu indikasi peringatan sebelum terjadi kejang. Tanda-tanda ini dapat berupa kejanggalan yang dirasakan pada tubuh, mencium aroma tertentu, atau mengecap rasa tertentu.
Pada lain sisi, terdapat sebagian penderita yang hanya mengalami tangan gemetar dan tanpa kehilangan kesadaran. Bahkan terkadang ada yang kehilangan kesadaran dan terlihat seperti bengong untuk sesaat, tapi tanpa mengalami gemetaran. Itulah kenapa kondisi kejang-kejang kadang sulit terdeteksi.

Durasi kejang juga tidak sama pada tiap penderita. Ada yang mengalaminya selama beberapa detik atau beberapa menit. Yang terpenting segera bawa penderita ke rumah sakit untuk menjalani penanganan darurat, terutama jika:
  1. Kejang tersebut adalah kejang pertama yang dialami penderita.
  2. Penderita tidak sadarkan diri selama lebih dari 10 menit.
  3. Durasi kejang melebihi lima menit.
  4. Kejang kembali terulang.
  5. Faktor-faktor Pemicu Kejang
Penyebab utama kejang adalah adanya gangguan pada aktivitas sinyal listrik dalam otak. Sekitar satu dari sepuluh orang yang mengalami kejang memiliki kondisi medis tertentu.


Pemicu utama gejala ini adalah epilepsi, tapi masih ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat menyebabkan gejala ini. Di antaranya:
  1. Akibat cedera, misalnya luka di kepala.
  2. Pengaruh kondisi kesehatan tertentu, seperti demam (terutama pada anak-anak), gula darah yang rendah, meningitis, eklamsia, atau stroke.
  3. Pengaruh obat-obatan, misalnya tramadol atau baclofen.
  4. Pola hidup yang buruk, misalnya terlalu banyak mengonsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang. Gejala putus obat atau alkohol dapat memicu kejang.
  5. Racun akibat gigitan hewan, misalnya ular.
Meski demikian, ada juga kejang yang terjadi tanpa akibat yang jelas. Kondisi ini disebut kejang idiopatik dan dapat terjadi pada semua umur. Tetapi umumnya dialami oleh anak-anak dan remaja.

Penanganan Untuk Kejang
Hampir semua penderita kejang akan sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan khusus. Tetapi selama mengalami reaksi otot yang tidak terkendali, penderita mungkin saja dapat terluka.

Tujuan utama penanganan kejang adalah untuk mencegah cidera pada penderitanya. Beberapa langkah sederhana yang bisa diambil meliputi:
  1. Baringkan penderita agar tidak jatuh, tapi jangan memindahkannya.
  2. Letakkan alas yang empuk di bawah kepala penderita, misalnya bantal atau jaket, jika memungkinkan.
  3. Jangan memasukkan sesuatu dalam mulut penderita, misalnya sendok atau jari.
  4. Jauhkan benda-benda berbahaya dari penderita, misalnya benda tajam.
  5. Jangan memakai kekerasan untuk menahan gerakan penderita.
  6. Longgarkan pakaian yang ketat, terutama di sekitar leher penderita.
  7. Miringkan kepala penderita. Posisi ini akan mencegah penderita untuk menelan muntahnya jika dia muntah.
  8. Hindari menyuapi penderita dengan apa pun sebelum kejang berhenti dan sepenuhnya sadar.
  9. Temani penderita sampai kejangnya berhenti atau sampai petugas medis datang.
  10. Setelah kejang berhenti, pastikan Anda memeriksa pernapasan penderita, memberikan napas buatan jika dibutuhkan, memantau tanda-tanda vital penderita (misalnya detak jantung), serta mencatat durasi kejang yang terjadi.
Khusus kejang bayi atau anak-anak yang mengalami kejang karena demam, jangan dimandikan dengan air dingin. Gunakanlah air hangat sebagai kompres untuk mendinginkan tubuh mereka secara perlahan-lahan. Lalu Anda dapat memberikan parasetamol setelah kejang berhenti.

Kejang dan Epilepsi
Anak-anak maupun orang dewasa yang pernah mengalami kejang dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Langkah ini diambil untuk mendiagnosis kemungkinan epilepsi. Dengan demikian, pengobatan sedini mungkin bisa dilakukan jika positif terdiagnosis epilepsi. (uf)

Keterangan: artikel ini diambiul seutuhnya dari alodokter.com.
Link: http://www.alodokter.com/kejang



Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda